Selamat datang di Biro Perjalanan Umroh

Kisah Umar bin Khattab Radiallahunanhu Menangis

Senin, 21 Januari 20130 komentar

Pernahkah anda membaca dalam riwayat akan Umar bin Khattab menangis? Umar bin Khattab terkenal gagah perkasa sehingga disegani lawan maupun kawan. Bahkan konon, dalam satu riwayat, Nabi menyebutkan kalau Syeitan pun amat segan dengan Umar sehingga kalau Umar lewat di suatu jalan, maka Syeitan pun menghindari lewat jalan yang lain. Terlepas dari kebenaran riwayat terakhir ini, yang jelas keperkasaan Umar sudah menjadi buah bibir di kalangan umat Islam. Karena itu kalau Umar sampai menangis tentulah itu menjadi peristiwa yang menakjubkan.

Mengapa “singa padang pasir” ini sampai menangis?

Umar pernah meminta izin menemui Rasulullah SAW. Ia mendapatkan Beliau sedang berbaring di atas tikar yang sangat kasar. Sehingga tubuh Beliau berada di atas tanah. Beliau hanya berbantal  pelepah kurma yang keras, Aku ucapkan salam kepadanya dan duduk di dekatnya. Aku tak sanggup menahan tangisku.

Rasul bertanya, “mengapa engkau menangis ya Umar?”. Umar menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis, tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau, padahal Engkau ini Nabi Allah dan kekasih-Nya. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Sedangkan Kisra dan Kaisar duduk di singgasana emas dan berbantalkan sutera.”

Nabi berkata, “ mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga, sebuah kesenangan yang  akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang yang berpergian pada musim panas. Ia berlindung sebentar di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya.”

Indah nian perumpamaan Nabi akan hubungan beliau dengan dunia ini. Dunia ini hanyalah tempat pemberhentian sementara , hanyalah tempat berteduh sejenak, untuk kemudian kita meneruskan perjalanan yang sesungguhnya.


Ketika kita pergi ke Belanda, biasanya pesawat akan transit di Singapura. Atau kita pulang dari Saudi Arabia, biasanya pesawat yang kita tumpangi akan mampir sejenak di Abu Dhabi. Anggap saja tempat transit itu Singapura dan Abu Dhabi, merupakan dunia ini. Apakah ketika trasit kita akan habiskan segala perbekalan? Apakah kita akan selamanya tinggal di tempat transit itu?

Ketika kita sibuk  shopping ternyata pesawat telah memanggil untuk segera meneruskan perjalanan. Ketika kita sedang telena dan sibuk dengan dunia ini, tiba-tiba Allah memanggil kita pulang kembali ke sisi-Nya. Perbekalan kita sudah habis, tangan kita penuh dengan bungkusan dosa, lalu apa yang akan kita bawa nanti di Padang Mahsyar?

Sisakan kesenangan kita di dunia ini untuk bekal di akhirat. Dalam tujuh hari seminggu, mengapa tak kita tahan segala nafsu, rasa lapar dan rasa haus paling tidak dua hari dalam seminggu. Lakukan ibadah puasa senin-kamis. Dalam dua puluh empat jam sehari, mengapa tak kita sisakan waktu barang satu-dua jam untuk shalat dan membaca al-Quran. Delapan jam waktu tidur kita... mengapa tak kita ambil 15 menit saja untuk bermunajat dalam kehangatan tahajjudnya.

“Celupkan tanganmu ke dalam lautan.” Saran Nabi ketika ada sahabat yang bertanya tentang perbedaan dunia dan akhirat, “ air yang ada di jarimu itulah dunia, sedangkan sisanya adalah akhirat.”

Bersiaplah, untuk menyelam di “lautan akhirat”. Siapa tahu Allah sebentar lagi akan memanggil kita dan bila saat panggilan itu tiba, jangankan untuk beribadah, menangispun kita tak akan punya waktu lagi.

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Cara Gampang | Creating Website | Johny Template | Mas Templatea | Pusat Promosi
Copyright © 2011. Biro Perjalanan Umroh - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modify by CaraGampang.Com
Proudly powered by Blogger